Ramuan Rempah Bir Pletok
Harga dilihat 2026-08-15 · belum termasuk ongkir
Kamu bayar Rp32.775 lihat rincian
| Harga di toko | Rp25.250 |
| Batas atas (toleransi 10% kalau harga naik) | Rp27.775 |
| Layanan Risos | Rp5.000 |
| Ditahan sekarang | Rp32.775 |
Kalau harganya masih Rp25.250 saat kami membeli, Rp2.525 kembali ke Saldo — jadi yang benar-benar keluar Rp30.250. Ongkir dihitung terpisah saat alamatmu diisi.
- Dana ditahan sampai barang diterima — kalau harganya melewati batas atas, kami tidak membeli dan dana kembali utuh.
- Faktur atas nama PT Riset Sinergi Sosial, bisa dilampirkan ke laporan dana penelitian.
- Dibelikan manual oleh tim kami, biasanya 1×24 jam kerja.
Keterangan dari toko
[block id=”cara-simpan-produk-full”] [block id=”dimensi-produk-bumbu”] Profil Rasa Bir Pletok, minuman khas Betawi, memiliki ciri khas yang membedakannya dari minuman lain. Warna merah yang khas berasal dari serutan kayu secang. Awalnya, saat pertama kali diminum, rasanya pedas namun seiring waktu, sensasi hangat mulai terasa karena pengaruh ramuan di dalamnya. Perpaduan warnanya menyerupai campuran bir dan anggur, namun rasa manisnya tidak pernah diiringi rasa pahit atau asam. Minuman ini tidak hanya nikmat dan hangat di lidah, tetapi juga dipercaya memiliki beragam khasiat yang baik untuk kesehatan. Napak Tilas Asal Bumbu Kisah unik mengenai munculnya bir pletok bermula dari pesta-pesta yang digemari warga Belanda di masa kolonial. Pesta tersebut sering menyediakan minuman beralkohol seperti bir dan anggur merah untuk para tamu. Namun, ada interpretasi alternatif terkait kata “bir” yang berasal dari bahasa Arab, mengacu pada “sumber mata air”. Minuman ini tidak mengandung alkohol dan dapat dikonsumsi oleh segala usia karena terbuat dari tanaman rimpang dan rempah, sering dijadikan komposisi jamu tradisional. Bang Handy, pelestari budaya Betawi, menyampaikan bahwa bir pletok diciptakan oleh masyarakat Betawi yang mulai meningkatkan praktik keislaman mereka, tidak ingin mengonsumsi minuman yang mengandung alkohol. Nama “bir” dipilih sebagai pengganti anggur merah yang biasa diminum oleh orang Belanda, sekaligus menunjukkan keinginan untuk tidak kalah dengan kebiasaan minum bir orang Eropa. Masyarakat Betawi ingin mencoba minuman yang mirip dengan minuman beer yang disukai oleh penjajah Belanda, namun tanpa efek mabuk dan sesuai dengan ajaran agama Islam. Ada beberapa teori mengenai asal kata “pletok”, seperti bunyi saat membuka botol atau hasil pencampuran bahan-bahan dalam tabung bambu. Bunyi ini juga terkait dengan es batu, kulit secang, atau proses pememarkan bahan sebelum direbus. Pada zaman kolonial, bir pletok sering dikonsumsi pada malam hari, nam
Barang lain yang mungkin cocok